Rabu, 14 Januari 2015

bagaimana perilaku konsumen terhadap pembelian online

Perilaku Konsumen online: Suatu Tinjauan dan Agenda Penelitian Masa Depan

REVIEW
Perilaku Konsumen online: Suatu Tinjauan dan Agenda Penelitian Masa Depan
Christy M. K. Cheung, Lei Zhu, Timothy Kwong,
Gloria W.W. Chan, Moez Limayem
Abstrak
Topik perilaku konsumen online telah diperiksa di berbagai konteks selama bertahun-tahun. Meskipun peneliti dari berbagai disiplin bisnis telah membuat kemajuan yang signifikan selama beberapa tahun terakhir, ruang lingkup dari studi ini masih luas, studi tampil relatif terfragmentasi dan tidak ada model teoritis pemersatu yang ditemukan. Dalam pandangan ini, kami memberikan kajian mendalam mengenai literatur dan mengusulkan kerangka kerja penelitian dengan tiga blok bangunan kunci (niat, adopsi, dan kelanjutan) untuk menganalisis perilaku konsumen online dengan cara yang sistematis. Kerangka kerja ini diusulkan tidak hanya memberikan tampilan yang kohesif mengenai perilaku konsumen online, tetapi juga berfungsi sebagai pedoman bagi para peneliti.
Pendahuluan
Perilaku konsumen Online telah menjadi sebuah penelitian dengan meningkatkan jumlah publikasi per tahun. Artikel-artikel penelitian muncul dalam berbagai jurnal dan prosiding konferensi di bidang sistem informasi, pemasaran, manajemen, dan psikologi. Sebuah tinjauan dari artikel ini menunjukkan bahwa sebagian besar peneliti menarik teori-teori dari penelitian perilaku konsumen klasik, seperti belajar perilaku (Skinner, 1938), penelitian kepribadian (Folkes 1988), pengolahan informasi (Bettman 1979), dan model sikap (Fishbein 1967). Selain itu, pemeriksaan dekat literatur di daerah ini menunjukkan bahwa sebagian besar komponen teori perilaku konsumen telah diterapkan untuk mempelajari perilaku konsumen online. Namun, aplikasi ini tidak sesederhana hanya meminjam komponen dan menerapkannya.
Sebuah tinjauan penelitian konsumen online mengungkapkan bahwa lingkup penelitian yang diterbitkan agak luas, studi tampil relatif terfragmentasi dengan hasil yang bertentangan, dan penelitian sebelumnya hanya sedikit (misalnya, Jarvenpaa dan Todd 1996, Koufaris et al, 2001) telah mencoba untuk meninjau dan mengembangkan kerangka kerja untuk studi ini bidang penelitian yang penting. Dalam lapisan ini, tujuan dari penelitian ini adalah:
(1) untuk memberikan review sistematis dan lengkap dari penelitian perilaku konsumen online
(2) untuk mengidentifikasi konstruksi penting yang spesifik untuk konteks pembelian online
(3) untuk mengusulkan terintegrasi kerangka kerja yang meningkatkan pemahaman kita tentang faktor pendorong yang mendasari perilaku konsumen online
(4) untuk memberikan arah untuk penelitian masa depan di daerah ini.
Metodologi
Sebanyak 351 artikel dalam bidang perilaku konsumen online diidentifikasi dari 1994 sampai April 2002. Untuk setiap studi untuk dimasukkan dalam analisis kami, harus fokus terutama pada perilaku beli konsumen di Web. Salinan elektronik dari artikel sebagian besar diperoleh dari perpustakaan digital dan database online. Mereka disimpan dan dianalisa dengan menggunakan perangkat lunak EndNote.
-Teori yang mendasari dan Kerangka
Sebagai bagian dari analisis kami, kami mengidentifikasi teori-teori yang digunakan oleh penulis 351 makalah yang disurvei. Temuan menunjukkan bahwa Teori beralasan Aksi (TRA) dan teori-teori keluarganya termasuk Technology Acceptance Model (TAM) dan Teori Perilaku Rencana (TPB) adalah teori-teori dominan di daerah ini. Oleh karena itu, harus kami mencoba untuk mengeksplorasi teori-teori baru dan kerangka kerja dan menyelidiki perilaku konsumen online dari perspektif yang berbeda.
-Kerangka Perilaku Konsumen online
Analisis kami menunjukkan bahwa perilaku konsumen online masih terfragmentasi. Sebagai contoh, peneliti seperti Goldsmith (2000) dan. Jarvenpaa et al (2000) menyimpulkan bahwa kepercayaan di sebuah toko Internet adalah penentu menonjol dari belanja online. Akhirnya, Lee (1999) difokuskan pada pembelian kembali online dan berpendapat bahwa kepercayaan konsumen dan kepuasan konsumen adalah kunci pendahulunya pembelian berlanjut.
Melalui pemeriksaan dekat literatur yang ada, lima wilayah domain utama yang menjelaskan faktor penting perilaku online terdiri dari karakteristik individu / konsumen, pengaruh lingkungan, produk / jasa karakteristik, karakteristik media, dan pedagang perantara online dan karakteristik diidentifikasi.merupakan faktor penting lain yang dapat menjelaskan perilaku online.
-Konsumen Niat Pembelian Online, Adopsi, dan Niat kelangsungannya adalah kunci dari kerangka yang diusulkan tentang perilaku konsumen online
a. Niat Pembelian Konsumen Online Berdasarkan teori tindakan beralasan dan teori-teori terkait lainnya di wilayah penelitian ini, faktor kunci dari sikap, norma subyektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan sebagian besar didalilkan sebagai penentu niat pembelian konsumen online (misalnya Bhattacherjee 2000, Tertarik et al, 2000, Limayem et al, 2000.).
b. Pembelian Konsumen online (Adopsi) Seperti kasus niat pembelian konsumen online, peneliti (misalnya Chau et al, 2000, Goldsmith dan Jembatan 2000, Koufaris et al, 2001, Limayem et al, 2000, Raijas dan Tuunainen 2001, Vellido et al, 2000) luas digunakan model teoritis sikap dalam studi pembelian konsumen online dan diselidiki secara menyeluruh faktor-faktor anteseden seperti niat, sikap, norma subyektif, kontrol perilaku yang dirasakan, kemudahan penggunaan, dan kegunaan dirasakan.
c.Konsumen online Repurchase (kelanjutan) Penelitian kelanjutan dalam masa pertumbuhan. (2001a) studi terbaru Bhattacherjee adalah salah satu dari usaha-usaha pertama untuk menjelaskan perilaku konsumen pembelian kembali online. Model yang diusulkan nya dirumuskan atas dasar harapan dan teori konfirmasi (ECT)
-Kesimpulan dan Agenda Masa Depan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisis mendalam tentang literatur di bidang perilaku konsumen online. Sebuah kerangka penelitian disarankan untuk lebih memahami studi yang ada dan untuk menyoroti penelitian-penelitian yang ada di daerah. Temuan kami menunjukkan bahwa literatur tentang perilaku konsumen online agak terfragmentasi. Kebanyakan penelitian menyelidiki niat dan adopsi dari belanja online saat kelanjutan perilaku (pembelian kembali) . Selain itu, analisis kami membantu untuk mengidentifikasi arah beberapa penelitian masa depan
ALASAN MENGAPA JURNAL TERSEBUT DIBUAT
Menurut kesimpulan yang saya dapatkan jurnal tersebut dibuat sehubungan dengan adanya kegiatan pembelian secara online yang mengalami begitu banyak kemajuan, serta penelitian yang mengungkapkan hal tersebut juga telah muncul di berbagai jurnal. Namun si peneliti dalam jurnal ini masih menganggap bahwa jurnal-jurnal yang mereka temukan mengenai “perilaku konsumen online” masih banyak kekurangan, mereka mengangap bahwa sehingga ruang lingkup dari studi merdahulu masih luas, studi tampil relatif terfragmentasi dan tidak ada model teoritis pemersatu yang ditemukan. Untuk itu para penulis jurnal ini menguslkan berbagai literatur serta kerangka yang baik dalam menyusun jurnal mengenai “perilaku konsumen online”.
KEKURANGAN DARI JURANAL
Jurnal yang telah dibuat oleh Christy M.K Cheung, Lei Zhu, Timothy Kwong,
Gloria W.W. Chan, dan Moez Limayem yang berjudul “Perilaku Konsumen Online; Suatu Tinjauan dan Agenda Penelitian Masa Depan” hanya mengungkapkan bagaimana literatur-literatur dan kerangka kerja yang baik untuk meneliti perilaku konsumen secara online dengan berpacu kepada penelitian-penelitian yang telah ada sebelumnya di daerah yang mereka gunakan untuk meneliti. Para peneliti tidak mencantumkan secara khusus kebiasaan masyarakat yang menggunakan media online sebagai sarana untuk memenuhi kbutuhannya,serta tidak mengambil beberapa sampel dari masyarakat di daerah yang mereka teliti. Seharusnya di dalam jurnal tersebut ada baiknya si penulis sedikit menggambarkan hal-hal apa saja yang diperlukan bagi para konsumen untuk menjadi consumer di media online. Sehingga para peneiti selanjutnya yang akan menjadikan jurnal tersebut sebagai jurnal acuan di masa yang akan datang dapat mengetahui seperti apa pola para konsumen di media online, bukan hanya mendapatkan informasi mengenai literatur-literatur yang telah ada sebelumnya.
referensi :http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:nGdKCC6pCwcJ:ecom.fov.uni-mb.si/proceedings.nsf/0/c9beda3ca328c8b7c1256ea1002c72b8/$FILE/16Cheung.pdf+international+journal+consumer+behaviour&hl=id&gl=id

jurnal perilaku konsumen

URNAL PERILAKU KONSUMEN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU
KONSUMEN DALAM MEMBELI /MENGKONSUMSI BUAH LOKAL
Pendahuluan
Pemasar harus berusaha untuk memahami konsumen, mengetahui apa yang dibutuhkannya, apa seleranya dan bagaimana ia mengambil keputusan. Sehingga pemasar dapat memproduksi barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pemahaman yang mendalam mengenai konsumen akan memungkinkan pemasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen, sehingga mau membeli apa yang ditawarkan oleh pemasar. Persaingan yang ketat antar merek dan produk menjadikan konsumen memiliki posisi yang semakin kuat dalam posisi tawar-menawar (Sumarwan, 2003).
Pendekatan komoditas yang berfokus pada self sufficiency harus mulai digeser menjadi pendekatan agribisnis yang sarat dengan penciptaan nilai tambah dan berorientasi pada keuntungan. Pendekatan kecukupan pangan yang berorientasi pada produksi pangan hendaknya mulai digeser pada ketahanan pangan yang berorientasi pada ketersediaan dan daya beli masyarakat. Dengan demikian, pendekatan produksi bukanlah satu-satunya pendekatan yang mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat (Sa’id, 1999). Kebutuhan dan selera konsumen akan terpenuhi manakala ketersediaan produk dan daya beli masyarakat juga mampu mengatasinya.
Usaha pemenuhan kebutuhan dan selera konsumen buah-buahan tercermin dengan semakin membanjirnya buah impor baik dari ragam jenis buah maupun volumenya. Sumarwan (1999), mengemukakan bahwa membanjirnya buah impor pada saat sebelum krisis moneter telah memojokkan buah-buahan lokal., persaingan yang datang dari luar serta kebijakan pemerintah yang kurang kondusif menyebabkan banyak petani yang semakin terpuruk. Namun krisis moneter menyebabkan buah impor semakin mahal dan semakin berkurang ketersediaannya di pasar. Sebaliknya pada saat yang sama, buah lokal semakin banyak tersedia di pasar dengan harga yang bersaing, oleh karenanya krisis moneter seharusnya dapat menjadi momentum yang tepat untuk merencanakan pengembangan buah lokal sebagai komoditas unggulan untuk ekspor maupun konsumsi dalam negeri.
Konsumen merupakan salah satu komponen penting dalam sisem agribisnis. Menurut Sumarwan (1999), mengemukakan bahwa tumbuhnya sektor agribisnis akan ditentukan oleh seberapa besar permintaan konsumen terhadap produk-produk agribisnis. Memahami perilaku konsumen buah-buahan merupakan informasi pasar yang sangat penting bagi sektor agribisnis. Informasi ini diperlukan sebagai bahan masukan untuk merencanakan produksi, mengembangkan produk dan memasarkan buah-buahan dengan baik.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Kotler (1993) antara lain adalah faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologis. Budaya merupakan salah satu penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar dan sesungguhnya seluruh masyarakat memiliki stratifikasi sosial dimana kelas sosial menunjukkan pilihan terhadap produk dengan merek yang berbeda-beda. Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik/ciri-ciri pribadinya, terutama yang berpengaruh adalah umur dan tahapan dalam siklus hidup pembeli, pekerjaannya, keadaan ekonominya, gaya hidupnya, pribadi dan konsep jati dirinya. Pilihan membeli seseorang juga akan dipengaruhi faktor psikologis utama, yaitu : motivasi, persepsi, proses belajar, dan kepercayaan dengan sikap.
REVIEW PENDAHULUAN PERILAKU KONSUMEN:
Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian buah demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Prilaku konsumen ini mendasari pengambilan keputusan, menurut para ahli yang berpendapat berbeda-beda tentang prilaku konsumen konsepnya sama tetapi yang membedakan pandangan para ahli tentang prilaku konsumen. Pemikiran kita tentang konsumen adalah konsumen itu adalah raja, sedangkan produsen yang melayani memberi informasi yang benar menyediakan buah yang di butuhkan oleh konsumen, di sini konsumen berperan aktif dalam meyeleksi buah yang di minati Karena produsen bertanggung jawab atas barang atau jasa yang di tawarkan oleh konsumen. Pada dasarnya konsumen akan bersikap puas apabila buah yang di tawarkan oleh produsen memenuhi keinginan konsumen. Kewajiban pelaku usaha terhadap konsumennya harus dilaksanakan dengan benar sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pasal 7 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menjelaskankan apa yang menjadi kewajiban pelaku usaha antara lain :
a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
b. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi barang atau jasa yang di tawarkan.
c. memperilakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
d. bertanggung jawab atas kepuasan konsumen dan lain-lain.
e. Memberi kompensasi atas ganti rugi apabila barang atau jasa yang di perlukan konsumen terjadi kesalahan
Prilaku Konsumen mempunyai sifat-sifat beraneka ragam yang menurut para ahli dibidang prilaku konsumen antara lain :
a. Menurut Consumer Behavior Is Dynamic adalah Perilaku konsumen dikatakan sangat dinamis karena proses berpikir, merasakan, dan aksi dari setiap individu konsumen, kelompok konsumen, dan perhimpunan besar konsumen selalu berubah secara konstan. Sifat yang seperti ini yang menyebabkan pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat menantang sekaligus sulit, sangat di butuhkan proses promisi dalam pengenalan barang yang ditawarkan dengan cara ini strategi pengenalan barang atau jasa dikenal oleh konsumen.
b. Consumer Behavior Involves Interactions Dalam perilaku konsumen lingkungan berperan aktif semakin dalam perusahaan memahami kemauan konsumen semakin baik perusahhaan memuaskan kebutuhan yang diinginkan oleh konsumen.
c. Consumer Behavior Involves Exchange Perilaku konsumen melibatkan pertukaran antara manusia. Dalam kata lain seseorang memberikan suatu kepuasan untuk orang lain dan menerima sesuatu sebagai gantinya. Terdapat Pendekatan Dalam Meneliti Perilaku Konsumen Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen
• Pendekatan interpretif adalah pendekatan yang dilakukan dengan wawancara atau diskusi untuk memahami sebah produk yang akan ditawarkan oleh produsen kepadan konsumen.
• Pendekatan tradisional adalah pendekatan yang dilakukan secara survei langsung kepada pelanggan dengan cara itu kita akan mengetahui kemauan pelanggan atas produk yang kita tawarkan.
Segmentasi pasar dan analisis demografi
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisis perbedaan antara pembeli di pasar.
Kepuasan konsumen adalah sejauh mana manfaat sebuah produk dirasakan (perceived) sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan (Amir, 2005). Kotler (2000) mengatakan bahwa kepuasan konsumen merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan antara kinerja produk yang ia rasakan dengan harapannya. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan definisi kepuasan konsumen yaitu tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja .produk yang dia rasakan dengan harapannya.
A. Komponen Kepuasan Konsumen
Menurut Giese & Cote (2000) sekalipun banyak definisi kepuasan konsumen, namun secara umum tetap mengarah kepada tiga komponen utama, yaitu:
1. Respon : Tipe dan intensitas
Kepuasan konsumen merupakan respon emosional dan juga kognitif. Intesitas responnya mulai dari sangat puas dan menyukai produk sampai sikap yang apatis terhadap produk tertentu.
2. Fokus
Fokus pada performansi objek disesuaikan pada beberapa standar. Nilai standar ini secara langsung berhubungan dengan produk, konsumsi, keputusan berbelanja, penjual dan toko.
3. Waktu respon
Respon terjadi pada waktu tertentu, antara lain : setelah konsumsi, setelah pemilihan produk atau jasa, berdasarkan pengalaman akumulatif. Durasi kepuasan mengarah kepada berapa lama respn kepuasan itu berakhir.
B. Profitabilitas
Hubungan antara kepuasan pelanggan dan profitabilitas sangatlah erat. Studi yang menunjukkan hal ini, terutama sepanjang dekade 80-an dan awal 90-an sudah sangat banyak. Secara logikapun, pelaku bisnis juga dengan mudah meyakini adanya hubungan antara dua hal ini. Pelanggan yang puas cenderung loyal. Tingkat loyalitas inilah yang sesungguhnya bertanggung jawab terhadap tingkat profitabilitas. Pelanggan yang loyal, cenderung membeli lebih banyak. Mereka juga cenderung mudah melakukan pembelian cross-selling atau add-on selling.
Karena hubungannya dengan tingkat profitabilitas, maka kepuasan pelanggan adalah asset yang berharga. Oleh karena itu, setiap upaya atau program untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, pada dasarnya adalah suatu investasi. Karena bersifat investasi, maka ada kemungkinan, usaha untuk meningkatkan kepuasan pelanggan tidaklah optimal. Perusahaan bisa over investment atau under investment.
C. Strategi Pemasaran
Agar segmen pasar dapat bermanfaat maka harus memenuhi beberapa karakteristik:
• Measurable : Ukuran, daya beli, dan profil segmen harus dapat diukur meskipun ada beberapa variabel yang sulit diukur.
• Accessible : Segmen pasar harus dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.
• Substantial : Segmen pasar harus cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani
• Differentiable : Segmen-segmen dapat dipisahkan secara konseptual dan memberikan
D. Rencana Perubahan
a. Analisis konsumen dan kebijakan sosial
Analisis konsumen berguna untuk melihat bagaimana konsumen mengambil keputusan dan peran pemasaran di dalamnya.
Pengambilan Keputusan Konsumen Proses pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang mengalami berbagai pentahapan sebagai berikut:
b. Analisis Kebutuhan
Konsumen merasa bahwa dia membutuhkan sesuatu untuk memenuhi keinginannya. Kebutuhan itu bisa dibangkitkan oleh dirinya sendiri ataupun stimulus eksternal. Stimulus bisa melalui lingkungan bergaul, sesuatu yang dilihat, ataupun dari komunikasi produk atau jasa perusahaan lewat media massa, brosur, dan lain-lain.
c. Pencarian Informasi
Setelah kebutuhan itu dirasakan, konsumen kemudian mencari produk ataupun jasa yang bisa memenuhi kebutuhannya.
d. Evaluasi Alternatif
Konsumen kemudian mengadakan evaluasi terhadap berbagai alternatif yang tersedia mulai dari keuntungan dan manfaat yang dia peroleh dibandingkan biaya yang harus ia keluarkan.
e. Keputusan Pembelian
Konsumen memutuskan untuk membeli merek tertentu dengan harga tertentu, warna tertentu.
f. Sikap Paska Pembelian
Sikap paska pembelian menyangkut sikap konsumen setelah membeli produk ataupun mengkonsumsi suatu jasa. Apakah dia akan puas dan terpenuhi kebutuhannya dengan produk atau jasa tersebut atau tidak.
E. Analisis Demografi
Pada suatu pemasaran produk, analisis demografi harus dilakukan. Hal tersebut berguna untuk mengetahui trend demografis produk yang dipasarkan. Data dalam demografi pemasaran dapat terdiri dari usia, ras, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, mobilitas, kepemilikan rumah, lokasi, status, pekerjaan, dan tingkat pendidikan. Jika demografi konsumen telah di lakukan, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan analisis demografi, agar demografi yang telah dilakukan dapat kita ketahui hasilnya setelah kita melakukan analisis atas demografi yang telah kita buat
Refrensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Segmentasi_pasar
http://nikinich.blogspot.com/2012/10/bab-ii-segmentasi-pasar-dan-analisis.html
Review Segmentasi pasar dan analisis demografi
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisis perbedaan antara pembeli di pasar. Dalam segmentasi pasar karakteristik pembeliaan sangat berpengaruh karena setiap konsumen mempunyai karakter yang berbeda-beda misalnya konsumen ingin membeli sebuah produk kosmetik, saat ini kosmetik mempuyai beranekaragam merek contohnya mustika ratu, wardah, oriflame dan lain-lain. Dalam segmentasi pasar kepuasan konsumen sangat penting karena, maafaat yang dipertanyakan apakah produk yang ditawarkan kepada konsumen bermanfaat. Kepuasan pelanggan sangat diutamakan dalam produk yang ditawarkan agar konsumen mendapatkan kepuasan yang tinggi.
Komponen Kepuasan Konsumen
Menurut Giese & Cote (2000) sekalipun banyak definisi kepuasan konsumen, namun secara umum tetap mengarah kepada tiga komponen utama, yaitu:
4. Respon : Tipe dan intensitas
Kepuasan konsumen merupakan respon sangat positif Intesitas responnya mulai dari sangat puas dan menyukai produk sampai sikap yang apatis terhadap produk tertentu tergantung terhadap kecocokan produk tersebut.
5. Fokus
Fokus pada performansi objek disesuaikan pada beberapa standar. Nilai standar ini secara langsung berhubungan dengan produk, konsumsi, keputusan berbelanja, penjual dan toko.
6. Waktu respon
Respon terjadi pada waktu tertentu, antara lain : setelah konsumsi, setelah pemilihan produk atau jasa, berdasarkan pengalaman akumulatif. Durasi kepuasan mengarah kepada berapa lama respon kepuasan itu berakhir.
Analisis Demografi
Pada suatu pemasaran produk, analisis demografi harus dilakukan. Hal tersebut berguna untuk mengetahui trend demografis produk yang dipasarkan agar tidak ketingglan dengan produk lainya. Data dalam demografi pemasaran dapat terdiri dari usia, ras, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, mobilitas, kepemilikan rumah, lokasi, status, pekerjaan, dan tingkat pendidikan. Jika demografi konsumen telah di lakukan, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan analisis demografi, agar demografi yang telah dilakukan dapat kita ketahui hasilnya setelah kita melakukan analisis atas demografi yang telah kita buat setelah itu kita akan mendapatkan respon dari konsumen tentang produk yang dibeli oleh konsumen dengan menggunakan analisis demografi kita akan mengetahui seberapa banyak konsumen yang berminat untuk membeli produk yang ditawarkan .
Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian
 Tahap Sebelum Pembelian
Konsumen akan menggali informasi tentang produk serta mendefinisikan tingkat kebutuhannya terhadap produk. Setelah mengidentifikasi kebutuhan dan kemungkinan mencari alternative pilihan terhadap produk maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi terhadap beberapa alternative produk yang ditawarkan oleh produsen
 Evaluasi Alternatif
Dari berbagai informasi yang diperoleh, selanjutnya di proses untuk mendapatkan keputusan atau pertimbangan nilai akan suatu produk, dan akan menghasilkan beberapa atribut yang akan muncul, setelah itu baru di beri bobot dari berbagai alternatif. Konsumen memproses informasi dari beberapa informasi dan membuat pertimbangan untuk memuaskan kebutuhan, konsumen mencari manfaat produk dan memandang produk sebagai suatu rangkaian atribut, atribut yang menonjol dianggap penting. Pemasar perlu menjelaskan manfaat produk dan menentukan atribut yang menonjol untuk mempengaruhi Evaluasi Alternatif sebelum Keputusan.
 Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam menilai alternative-alternative pilihan. Kriteria alternative dapat muncul dalam berbagai bentuk misalnya dalam membeli mobil seorang konsumen mungkin mempertimbangkan kriteria keselamatan, kenyamanan, harga, merek, Negara asal(country of origin) dan juga aspekhedonik seperti gengsi, kebahagiaan, kesenangan dan sebagainya.
Beberapa kriteria eveluasi yang umum adalah:
1. Harga
Harga menentukan pemilihan alternatif. Konsumen cenderung akan memiliha harga yang murahuntuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas produk maka harga merupakan indicator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.
2. Nama Merek, Merek terbukti menjadi determinan penting dalam pembelian obat. Nampaknya merek merupakan penganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika konsumen sulit menilai criteria kualitas produk, kepercayaan pada merek lama yang sudah memiliki reputasi baik dapat mengurangi resiko kesalahan dalam pembelian. Negara asal, Negara dimana suatu produk dihasilkan menjadi pertimbangan penting dikalangan konsumen. negara asal sering mencitrakan kualitas produk. Konsumen
 Evaluasi Alternatif sebagai Proses
Evaluasi Alternatif sebagai Proses adalah suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternative dalam proses pengambilan keputusan selanjutnya. Bila seseorang dihadapkan pada pembelian produk, yaitu antara membeli produk yang satu dan yang lain dengan kesamaan jenis, maka dia ada dalam posisi harus membuat Evaluasi Alternatif sebelum pembelian. Dalam proses evaluasi alternatif, konsumen harus melakukan pemecahan masalah dalam kebutuhan yang dirasakan dan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dengan konsumsi produk atau jasa yang sesuai.
Sumber : http://argen26.blogspot.com/2012/10/evaluasi-alternatif-sebelum-pembelian.html
Review Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian
Konsumen akan mencari sebuah informasi yang terdapat dalam produk yang akan dibeli dimana tingkat kebutuhan yang diperlukan konsumen tinggi, selanjutnya melakukan tahapan evaluasi terhadap beberapa produk yang ditawarkan. Beberapa dari informasi yang diperoleh mempertimbangkan akan nilai produk dengan merek lain yang manfaatnya berbeda-beda.
Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam menilai alternative-alternative pilihan. Kriteria alternative dapat muncul dalam berbagai bentuk misalnya dalam membeli kosmetik seorang konsumen mungkin mempertimbangkan kriteria kandugannya, kecocokan, harga, merek. Beberapa kriteria eveluasi yang umum adalah:
1. Harga menentukan pemilihan alternatif. Konsumen cenderung akan memiliha harga yang murah walaupun kualitas kandugan dan kesalamtaan tidak diperdulikan contohnya seperti pembelian kosmetik diatas, banyak sekali saat ini dijual kosmetik murah dengan kandungan yang berbahaya bagi keselamatan tubuh kita untuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya sama tetapi kandugan yang terdapat didalam kosmetik berbahaya untuk tubuh. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas produk maka harga merupakan indicator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.
 Nama Merek Merek terbukti menjadi peminat nomor satu pembelian. Nampaknya merek merupakan penganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika konsumen sulit menilai kriteria kualitas produk, kepercayaan pada merek lama yang sudah memiliki reputasi baik dapat mengurangi resiko kesalahan dalam pembelian.
Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
Setiap konsumen melakukan berbagai macam keputusan mengenai aktifitas kehidupan. Seringkali berbagai macam keputusan harus dilakukan oleh setiap konsumen pada setiap hari. Schiffman dan Kanuk (1994) dalam Ujang Sumarwan (2004:289) mendefinisikan suatu keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Pada saat konsumen membeli sebuah produk, umumnya konsumen mengikuti suatu proses atau tahapan dalam pengambilan keputusan.
Menurut Engel et al. (1994:31-32) dan Lamb et al. (2001:188), ada lima tahapan yaitu :
(1) pengenalan kebutuhan,
(2) pencarian informasi,
(3) evaluasi alternatif,
(4) keputusan pembelian,
(5) perilaku pascapembelian.
• Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian oleh konsumen diawali sejak pembeli mengenali kebutuhan atau masalah. Kebutuhan tersebut dapat ditimbulkan oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal, terjadi pada salah satu kebutuhan umum seseorang (seperti lapar dan haus) telah mencapai ambang batas tertentu dan mulai menjadi pendorong. Sedangkan rangsangan eksternal, salah satunya terjadi karena seseorang menonton iklan atau melihat produk baru milik tetangganya.
• Pencarian Informasi
Setelah konsumen yang terangsang kebutuhannya, konsumen akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Orang lebih peka terhadap informasi produk. Selanjutnya, orang mulai aktif mencari informasi: bertanya kepada teman, mendatangi toko untuk mencari tahu atau membuka-buka internet untuk membandingkan spesifisikasi dan harga barang.
• Evaluasi Alternatif
Evaluasi umunya mencerminkan keyakinan dan sikap yang mempengaruhi perilaku pembelian mereka. Keyakinan (belief) adalah gambaran pemikiran yang dianut seseorang tentang gambaran sesuatu. Keyakinan seseorang tentang produk atau merek mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Yang tak kalah pentingnya dengan keyakinan adalah sikap. Sikap (attitude) adalah evaluasi, perasaan emosi, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama pada sesorang pada objek atau gagasan tertentu (Spector, 2000 dalam Kotler dan Keller, 2007).
• Keputusan Pembelian
Dalam suatu kasus pembelian, konsumen bisa mengambil beberapa sub keputusan, meliputi merk, pemasok, jumlah, waktu pelaksanaan dan metode pembayaran. Contohnya ketika membeli kendaraan atau peralatan mesin. Namun dalam pembelian produk sehari-hari, keputusan konsumen bisa jadi lebih sederhana. Contohnya ketika membeli gula, seorang konsumen tidak banyak berfikir tentang pemasok atau metode pembayaran.
• Perilaku Pasca pembelian

Setelah pembelian dilakukan, konsumen akan selalu siaga terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Konsumen akan membandingkan produk yang telah ia beli, dengan produk lain. Hal ini dikarenakan konsumen mengalami ketidakcocokan dengan fasilitas-fasilitas tertentu pada barang yang telah ia beli, atau mendengar keunggulan tentang merek lain.

Senin, 05 Januari 2015

jurnal perilaku konsumen

JURNAL PERILAKU KONSUMEN
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU
KONSUMEN DALAM MEMBELI /MENGKONSUMSI BUAH LOKAL
Pendahuluan
Pemasar harus berusaha untuk memahami konsumen, mengetahui apa yang dibutuhkannya, apa seleranya dan bagaimana ia mengambil keputusan. Sehingga pemasar dapat memproduksi barang dan jasa yang sesuai dengan kebutuhan konsumen. Pemahaman yang mendalam mengenai konsumen akan memungkinkan pemasar dapat mempengaruhi keputusan konsumen, sehingga mau membeli apa yang ditawarkan oleh pemasar. Persaingan yang ketat antar merek dan produk menjadikan konsumen memiliki posisi yang semakin kuat dalam posisi tawar-menawar (Sumarwan, 2003).

Pendekatan komoditas yang berfokus pada self sufficiency harus mulai digeser menjadi pendekatan agribisnis yang sarat dengan penciptaan nilai tambah dan berorientasi pada keuntungan. Pendekatan kecukupan pangan yang berorientasi pada produksi pangan hendaknya mulai digeser pada ketahanan pangan yang berorientasi pada ketersediaan dan daya beli masyarakat. Dengan demikian, pendekatan produksi bukanlah satu-satunya pendekatan yang mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat (Sa’id, 1999). Kebutuhan dan selera konsumen akan terpenuhi manakala ketersediaan produk dan daya beli masyarakat juga mampu mengatasinya.
Usaha pemenuhan kebutuhan dan selera konsumen buah-buahan tercermin dengan semakin membanjirnya buah impor baik dari ragam jenis buah maupun volumenya. Sumarwan (1999), mengemukakan bahwa membanjirnya buah impor pada saat sebelum krisis moneter telah memojokkan buah-buahan lokal., persaingan yang datang dari luar serta kebijakan pemerintah yang kurang kondusif menyebabkan banyak petani yang semakin terpuruk. Namun krisis moneter menyebabkan buah impor semakin mahal dan semakin berkurang ketersediaannya di pasar. Sebaliknya pada saat yang sama, buah lokal semakin banyak tersedia di pasar dengan harga yang bersaing, oleh karenanya krisis moneter seharusnya dapat menjadi momentum yang tepat untuk merencanakan pengembangan buah lokal sebagai komoditas unggulan untuk ekspor maupun konsumsi dalam negeri.
Konsumen merupakan salah satu komponen penting dalam sisem agribisnis. Menurut Sumarwan (1999), mengemukakan bahwa tumbuhnya sektor agribisnis akan ditentukan oleh seberapa besar permintaan konsumen terhadap produk-produk agribisnis. Memahami perilaku konsumen buah-buahan merupakan informasi pasar yang sangat penting bagi sektor agribisnis. Informasi ini diperlukan sebagai bahan masukan untuk merencanakan produksi, mengembangkan produk dan memasarkan buah-buahan dengan baik.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Kotler (1993) antara lain adalah faktor budaya, faktor sosial, faktor pribadi dan faktor psikologis. Budaya merupakan salah satu penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar dan sesungguhnya seluruh masyarakat memiliki stratifikasi sosial dimana kelas sosial menunjukkan pilihan terhadap produk dengan merek yang berbeda-beda. Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik/ciri-ciri pribadinya, terutama yang berpengaruh adalah umur dan tahapan dalam siklus hidup pembeli, pekerjaannya, keadaan ekonominya, gaya hidupnya, pribadi dan konsep jati dirinya. Pilihan membeli seseorang juga akan dipengaruhi faktor psikologis utama, yaitu : motivasi, persepsi, proses belajar, dan kepercayaan dengan sikap.
REVIEW PENDAHULUAN PERILAKU KONSUMEN:
Perilaku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian buah demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Prilaku konsumen ini mendasari pengambilan keputusan, menurut para ahli yang berpendapat berbeda-beda tentang prilaku konsumen konsepnya sama tetapi yang membedakan pandangan para ahli tentang prilaku konsumen. Pemikiran kita tentang konsumen adalah konsumen itu adalah raja, sedangkan produsen yang melayani memberi informasi yang benar menyediakan buah yang di butuhkan oleh konsumen, di sini konsumen berperan aktif dalam meyeleksi buah yang di minati Karena produsen bertanggung jawab atas barang atau jasa yang di tawarkan oleh konsumen. Pada dasarnya konsumen akan bersikap puas apabila buah yang di tawarkan oleh produsen memenuhi keinginan konsumen. Kewajiban pelaku usaha terhadap konsumennya harus dilaksanakan dengan benar sesuai dengan regulasi yang berlaku. Pasal 7 Undang-Undang No.8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang menjelaskankan apa yang menjadi kewajiban pelaku usaha antara lain :
a. beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya;
b. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi barang atau jasa yang di tawarkan.
c. memperilakukan atau melayani konsumen secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
d. bertanggung jawab atas kepuasan konsumen dan lain-lain.
e. Memberi kompensasi atas ganti rugi apabila barang atau jasa yang di perlukan konsumen terjadi kesalahan

Prilaku Konsumen mempunyai sifat-sifat beraneka ragam yang menurut para ahli dibidang prilaku konsumen antara lain :
a. Menurut Consumer Behavior Is Dynamic adalah Perilaku konsumen dikatakan sangat dinamis karena proses berpikir, merasakan, dan aksi dari setiap individu konsumen, kelompok konsumen, dan perhimpunan besar konsumen selalu berubah secara konstan. Sifat yang seperti ini yang menyebabkan pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat menantang sekaligus sulit, sangat di butuhkan proses promisi dalam pengenalan barang yang ditawarkan dengan cara ini strategi pengenalan barang atau jasa dikenal oleh konsumen.
b. Consumer Behavior Involves Interactions Dalam perilaku konsumen lingkungan berperan aktif semakin dalam perusahaan memahami kemauan konsumen semakin baik perusahhaan memuaskan kebutuhan yang diinginkan oleh konsumen.
c. Consumer Behavior Involves Exchange Perilaku konsumen melibatkan pertukaran antara manusia. Dalam kata lain seseorang memberikan suatu kepuasan untuk orang lain dan menerima sesuatu sebagai gantinya. Terdapat Pendekatan Dalam Meneliti Perilaku Konsumen Terdapat tiga pendekatan utama dalam meneliti perilaku konsumen
• Pendekatan interpretif adalah pendekatan yang dilakukan dengan wawancara atau diskusi untuk memahami sebah produk yang akan ditawarkan oleh produsen kepadan konsumen.
• Pendekatan tradisional adalah pendekatan yang dilakukan secara survei langsung kepada pelanggan dengan cara itu kita akan mengetahui kemauan pelanggan atas produk yang kita tawarkan.

Segmentasi pasar dan analisis demografi
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisis perbedaan antara pembeli di pasar.
Kepuasan konsumen adalah sejauh mana manfaat sebuah produk dirasakan (perceived) sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan (Amir, 2005). Kotler (2000) mengatakan bahwa kepuasan konsumen merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan antara kinerja produk yang ia rasakan dengan harapannya. Dari berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan definisi kepuasan konsumen yaitu tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja .produk yang dia rasakan dengan harapannya.
A. Komponen Kepuasan Konsumen
Menurut Giese & Cote (2000) sekalipun banyak definisi kepuasan konsumen, namun secara umum tetap mengarah kepada tiga komponen utama, yaitu:
1. Respon : Tipe dan intensitas
Kepuasan konsumen merupakan respon emosional dan juga kognitif. Intesitas responnya mulai dari sangat puas dan menyukai produk sampai sikap yang apatis terhadap produk tertentu.
2. Fokus
Fokus pada performansi objek disesuaikan pada beberapa standar. Nilai standar ini secara langsung berhubungan dengan produk, konsumsi, keputusan berbelanja, penjual dan toko.
3. Waktu respon
Respon terjadi pada waktu tertentu, antara lain : setelah konsumsi, setelah pemilihan produk atau jasa, berdasarkan pengalaman akumulatif. Durasi kepuasan mengarah kepada berapa lama respn kepuasan itu berakhir.

B. Profitabilitas
Hubungan antara kepuasan pelanggan dan profitabilitas sangatlah erat. Studi yang menunjukkan hal ini, terutama sepanjang dekade 80-an dan awal 90-an sudah sangat banyak. Secara logikapun, pelaku bisnis juga dengan mudah meyakini adanya hubungan antara dua hal ini. Pelanggan yang puas cenderung loyal. Tingkat loyalitas inilah yang sesungguhnya bertanggung jawab terhadap tingkat profitabilitas. Pelanggan yang loyal, cenderung membeli lebih banyak. Mereka juga cenderung mudah melakukan pembelian cross-selling atau add-on selling.
Karena hubungannya dengan tingkat profitabilitas, maka kepuasan pelanggan adalah asset yang berharga. Oleh karena itu, setiap upaya atau program untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, pada dasarnya adalah suatu investasi. Karena bersifat investasi, maka ada kemungkinan, usaha untuk meningkatkan kepuasan pelanggan tidaklah optimal. Perusahaan bisa over investment atau under investment.
C. Strategi Pemasaran
Agar segmen pasar dapat bermanfaat maka harus memenuhi beberapa karakteristik:
• Measurable : Ukuran, daya beli, dan profil segmen harus dapat diukur meskipun ada beberapa variabel yang sulit diukur.
• Accessible : Segmen pasar harus dapat dijangkau dan dilayani secara efektif.
• Substantial : Segmen pasar harus cukup besar dan menguntungkan untuk dilayani
• Differentiable : Segmen-segmen dapat dipisahkan secara konseptual dan memberikan
D. Rencana Perubahan
a. Analisis konsumen dan kebijakan sosial
Analisis konsumen berguna untuk melihat bagaimana konsumen mengambil keputusan dan peran pemasaran di dalamnya.
Pengambilan Keputusan Konsumen Proses pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang mengalami berbagai pentahapan sebagai berikut:

b. Analisis Kebutuhan
Konsumen merasa bahwa dia membutuhkan sesuatu untuk memenuhi keinginannya. Kebutuhan itu bisa dibangkitkan oleh dirinya sendiri ataupun stimulus eksternal. Stimulus bisa melalui lingkungan bergaul, sesuatu yang dilihat, ataupun dari komunikasi produk atau jasa perusahaan lewat media massa, brosur, dan lain-lain.
c. Pencarian Informasi
Setelah kebutuhan itu dirasakan, konsumen kemudian mencari produk ataupun jasa yang bisa memenuhi kebutuhannya.
d. Evaluasi Alternatif
Konsumen kemudian mengadakan evaluasi terhadap berbagai alternatif yang tersedia mulai dari keuntungan dan manfaat yang dia peroleh dibandingkan biaya yang harus ia keluarkan.
e. Keputusan Pembelian
Konsumen memutuskan untuk membeli merek tertentu dengan harga tertentu, warna tertentu.
f. Sikap Paska Pembelian
Sikap paska pembelian menyangkut sikap konsumen setelah membeli produk ataupun mengkonsumsi suatu jasa. Apakah dia akan puas dan terpenuhi kebutuhannya dengan produk atau jasa tersebut atau tidak.

E. Analisis Demografi
Pada suatu pemasaran produk, analisis demografi harus dilakukan. Hal tersebut berguna untuk mengetahui trend demografis produk yang dipasarkan. Data dalam demografi pemasaran dapat terdiri dari usia, ras, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, mobilitas, kepemilikan rumah, lokasi, status, pekerjaan, dan tingkat pendidikan. Jika demografi konsumen telah di lakukan, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan analisis demografi, agar demografi yang telah dilakukan dapat kita ketahui hasilnya setelah kita melakukan analisis atas demografi yang telah kita buat
Refrensi :


Review Segmentasi pasar dan analisis demografi
Segmentasi pasar adalah kegiatan membagi suatu pasar menjadi kelompok-kelompok pembeli yang berbeda yang memiliki kebutuhan, karakteristik, atau perilaku yang berbeda yang mungkin membutuhkan produk atau bauran pemasaran yang berbeda. Segmentasi pasar juga dapat diartikan sebagai proses pengidentifikasian dan menganalisis para pembeli di pasar produk, menganalisis perbedaan antara pembeli di pasar. Dalam segmentasi pasar karakteristik pembeliaan sangat berpengaruh karena setiap konsumen mempunyai karakter yang berbeda-beda misalnya konsumen ingin membeli sebuah produk kosmetik, saat ini kosmetik mempuyai beranekaragam merek contohnya mustika ratu, wardah, oriflame dan lain-lain. Dalam segmentasi pasar kepuasan konsumen sangat penting karena, maafaat yang dipertanyakan apakah produk yang ditawarkan kepada konsumen bermanfaat. Kepuasan pelanggan sangat diutamakan dalam produk yang ditawarkan agar konsumen mendapatkan kepuasan yang tinggi.
Komponen Kepuasan Konsumen
Menurut Giese & Cote (2000) sekalipun banyak definisi kepuasan konsumen, namun secara umum tetap mengarah kepada tiga komponen utama, yaitu:
4. Respon : Tipe dan intensitas
Kepuasan konsumen merupakan respon sangat positif Intesitas responnya mulai dari sangat puas dan menyukai produk sampai sikap yang apatis terhadap produk tertentu tergantung terhadap kecocokan produk tersebut.
5. Fokus
Fokus pada performansi objek disesuaikan pada beberapa standar. Nilai standar ini secara langsung berhubungan dengan produk, konsumsi, keputusan berbelanja, penjual dan toko.
6. Waktu respon
Respon terjadi pada waktu tertentu, antara lain : setelah konsumsi, setelah pemilihan produk atau jasa, berdasarkan pengalaman akumulatif. Durasi kepuasan mengarah kepada berapa lama respon kepuasan itu berakhir.

Analisis Demografi
Pada suatu pemasaran produk, analisis demografi harus dilakukan. Hal tersebut berguna untuk mengetahui trend demografis produk yang dipasarkan agar tidak ketingglan dengan produk lainya. Data dalam demografi pemasaran dapat terdiri dari usia, ras, jenis kelamin, pekerjaan, pendapatan, mobilitas, kepemilikan rumah, lokasi, status, pekerjaan, dan tingkat pendidikan. Jika demografi konsumen telah di lakukan, maka hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah melakukan analisis demografi, agar demografi yang telah dilakukan dapat kita ketahui hasilnya setelah kita melakukan analisis atas demografi yang telah kita buat setelah itu kita akan mendapatkan respon dari konsumen tentang produk yang dibeli oleh konsumen dengan menggunakan analisis demografi kita akan mengetahui seberapa banyak konsumen yang berminat untuk membeli produk yang ditawarkan .

Evaluasi Alternatif Sebelum Pembelian
 Tahap Sebelum Pembelian
Konsumen akan menggali informasi tentang produk serta mendefinisikan tingkat kebutuhannya terhadap produk. Setelah mengidentifikasi kebutuhan dan kemungkinan mencari alternative pilihan terhadap produk maka langkah selanjutnya adalah melakukan evaluasi terhadap beberapa alternative produk yang ditawarkan oleh produsen
 Evaluasi Alternatif
Dari berbagai informasi yang diperoleh, selanjutnya di proses untuk mendapatkan keputusan atau pertimbangan nilai akan suatu produk, dan akan menghasilkan beberapa atribut yang akan muncul, setelah itu baru di beri bobot dari berbagai alternatif. Konsumen memproses informasi dari beberapa informasi dan membuat pertimbangan untuk memuaskan kebutuhan, konsumen mencari manfaat produk dan memandang produk sebagai suatu rangkaian atribut, atribut yang menonjol dianggap penting. Pemasar perlu menjelaskan manfaat produk dan menentukan atribut yang menonjol untuk mempengaruhi Evaluasi Alternatif sebelum Keputusan.
 Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam menilai alternative-alternative pilihan. Kriteria alternative dapat muncul dalam berbagai bentuk misalnya dalam membeli mobil seorang konsumen mungkin mempertimbangkan kriteria keselamatan, kenyamanan, harga, merek, Negara asal(country of origin) dan juga aspekhedonik seperti gengsi, kebahagiaan, kesenangan dan sebagainya.
Beberapa kriteria eveluasi yang umum adalah:
1. Harga
Harga menentukan pemilihan alternatif. Konsumen cenderung akan memiliha harga yang murahuntuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas produk maka harga merupakan indicator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.
2. Nama Merek, Merek terbukti menjadi determinan penting dalam pembelian obat. Nampaknya merek merupakan penganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika konsumen sulit menilai criteria kualitas produk, kepercayaan pada merek lama yang sudah memiliki reputasi baik dapat mengurangi resiko kesalahan dalam pembelian. Negara asal, Negara dimana suatu produk dihasilkan menjadi pertimbangan penting dikalangan konsumen. negara asal sering mencitrakan kualitas produk. Konsumen
 Evaluasi Alternatif sebagai Proses

Evaluasi Alternatif sebagai Proses adalah suatu pemilihan tindakan dari dua atau lebih pilihan alternative dalam proses pengambilan keputusan selanjutnya. Bila seseorang dihadapkan pada pembelian produk, yaitu antara membeli produk yang satu dan yang lain dengan kesamaan jenis, maka dia ada dalam posisi harus membuat Evaluasi Alternatif sebelum pembelian. Dalam proses evaluasi alternatif, konsumen harus melakukan pemecahan masalah dalam kebutuhan yang dirasakan dan keinginannya untuk memenuhi kebutuhan dengan konsumsi produk atau jasa yang sesuai.
Konsumen akan mencari sebuah informasi yang terdapat dalam produk yang akan dibeli dimana tingkat kebutuhan yang diperlukan konsumen tinggi, selanjutnya melakukan tahapan evaluasi terhadap beberapa produk yang ditawarkan. Beberapa dari informasi yang diperoleh mempertimbangkan akan nilai produk dengan merek lain yang manfaatnya berbeda-beda.

Kriteria evaluasi berisi dimensi atau atribut tertentu yang digunakan dalam menilai alternative-alternative pilihan. Kriteria alternative dapat muncul dalam berbagai bentuk misalnya dalam membeli kosmetik seorang konsumen mungkin mempertimbangkan kriteria kandugannya, kecocokan, harga, merek. Beberapa kriteria eveluasi yang umum adalah:
1. Harga menentukan pemilihan alternatif. Konsumen cenderung akan memiliha harga yang murah walaupun kualitas kandugan dan kesalamtaan tidak diperdulikan contohnya seperti pembelian kosmetik diatas, banyak sekali saat ini dijual kosmetik murah dengan kandungan yang berbahaya bagi keselamatan tubuh kita untuk suatu produk yang ia tahu spesifikasinya sama tetapi kandugan yang terdapat didalam kosmetik berbahaya untuk tubuh. Namun jika konsumen tidak bisa mengevaluasi kualitas produk maka harga merupakan indicator kualitas. Oleh karena itu strategi harga hendaknya disesuaikan dengan karakteristik produk.
 Nama Merek Merek terbukti menjadi peminat nomor satu pembelian. Nampaknya merek merupakan penganti dari mutu dan spesifikasi produk. Ketika konsumen sulit menilai kriteria kualitas produk, kepercayaan pada merek lama yang sudah memiliki reputasi baik dapat mengurangi resiko kesalahan dalam pembelian.

Proses Pengambilan Keputusan Konsumen
Setiap konsumen melakukan berbagai macam keputusan mengenai aktifitas kehidupan. Seringkali berbagai macam keputusan harus dilakukan oleh setiap konsumen pada setiap hari. Schiffman dan Kanuk (1994) dalam Ujang Sumarwan (2004:289) mendefinisikan suatu keputusan sebagai pemilihan suatu tindakan dari dua atau lebih pilihan alternatif. Pada saat konsumen membeli sebuah produk, umumnya konsumen mengikuti suatu proses atau tahapan dalam pengambilan keputusan.
Menurut Engel et al. (1994:31-32) dan Lamb et al. (2001:188), ada lima tahapan yaitu :
(1) pengenalan kebutuhan,
(2) pencarian informasi,
(3) evaluasi alternatif,
(4) keputusan pembelian,
(5) perilaku pascapembelian.
• Pengenalan Kebutuhan
Proses pembelian oleh konsumen diawali sejak pembeli mengenali kebutuhan atau masalah. Kebutuhan tersebut dapat ditimbulkan oleh rangsangan internal atau eksternal. Rangsangan internal, terjadi pada salah satu kebutuhan umum seseorang (seperti lapar dan haus) telah mencapai ambang batas tertentu dan mulai menjadi pendorong. Sedangkan rangsangan eksternal, salah satunya terjadi karena seseorang menonton iklan atau melihat produk baru milik tetangganya.
• Pencarian Informasi
Setelah konsumen yang terangsang kebutuhannya, konsumen akan terdorong untuk mencari informasi yang lebih banyak. Orang lebih peka terhadap informasi produk. Selanjutnya, orang mulai aktif mencari informasi: bertanya kepada teman, mendatangi toko untuk mencari tahu atau membuka-buka internet untuk membandingkan spesifisikasi dan harga barang.
• Evaluasi Alternatif
Evaluasi umunya mencerminkan keyakinan dan sikap yang mempengaruhi perilaku pembelian mereka. Keyakinan (belief) adalah gambaran pemikiran yang dianut seseorang tentang gambaran sesuatu. Keyakinan seseorang tentang produk atau merek mempengaruhi keputusan pembelian mereka. Yang tak kalah pentingnya dengan keyakinan adalah sikap. Sikap (attitude) adalah evaluasi, perasaan emosi, dan kecenderungan tindakan yang menguntungkan atau tidak menguntungkan dan bertahan lama pada sesorang pada objek atau gagasan tertentu (Spector, 2000 dalam Kotler dan Keller, 2007).

• Keputusan Pembelian
Dalam suatu kasus pembelian, konsumen bisa mengambil beberapa sub keputusan, meliputi merk, pemasok, jumlah, waktu pelaksanaan dan metode pembayaran. Contohnya ketika membeli kendaraan atau peralatan mesin. Namun dalam pembelian produk sehari-hari, keputusan konsumen bisa jadi lebih sederhana. Contohnya ketika membeli gula, seorang konsumen tidak banyak berfikir tentang pemasok atau metode pembayaran.
• Perilaku Pasca pembelian
Setelah pembelian dilakukan, konsumen akan selalu siaga terhadap informasi yang mendukung keputusannya. Konsumen akan membandingkan produk yang telah ia beli, dengan produk lain. Hal ini dikarenakan konsumen mengalami ketidakcocokan dengan fasilitas-fasilitas tertentu pada barang yang telah ia beli, atau mendengar keunggulan tentang merek lain.


Setiap konsumen kita mempunyai hak dalam pengambilan keputusan mengenai aktivitas yang kita jalankan terutama dalam pengambilan keputusan saat kita membeli barang atau jasa disitu kita akan mempertimbangkan saat ingin membelinya, apakah barang atau jasa itu sangat dibutuhkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Di situlah akan timbul proses pengambilan keputusan antara membeli barang atau jasa dan tidak membeli kita akan memutuskan apabila kita sudah merasa puas atas barang atau jasa yang ditawarkan. Pengambilan keputusan konsumen mempunyai beberapa tahap antara lain:
o pengenalan kebutuhan,
o pencarian informasi,
o evaluasi alternatif,
o keputusan pembelian,
o perilaku pasca pembelian.

1. Pengenalan kebutuhan adalah Proses membeli yang diawali dengan pengenalan produk-produk yang ditawarkan apakah kita membutuhkan produk yang ditawarkan atau tidak.
2. Pencarian informasi adalah kita mencari sebuah informasi dari produk yang ditawarkan apakah produk itu bermanfaat atau tidak. Dari proses pencarian informasi kita akan terdorong utuk membelinya
3. Evaluasi alternatif adalah keyakinan yang mempengaruhi prilaku dalam mengevaluasi barang yang akan dibeli, jadi kita bisa mempertimbangkan antara barang satu dengan yang lain yang berbeda merek yang ditentukan adalah kualitas kedua barang tersebut mempunyai kelebihan masing-masing.
4. Keputusan pembelian adalah proses pembelian yang menurut kita sudah memuaskan untuk dibeli karena sangat dibutuhkan untuk kita.
5. Prilaku pasca pembelian adalah Konsumen akan membandingkan produk yang telah ia beli, dengan produk lain. Hal ini dikarenakan konsumen mengalami ketidakcocokan dengan fasilitas-fasilitas tertentu pada barang yang telah ia beli, atau mendengar keunggulan tentang merek lain.

bagaimana perilaku konsumen terhadap pembelian online

Selera penduduk Asia dalam berbelanja secara online telah bergeser dari komputer pribadi ke smartphone. Lebih dari setengah konsumen di Indonesia dan Thailand menggunakan ponsel mereka untuk berbelanja, menurut Survei Belanja Online terbaru MasterCard yang dikeluarkan di Singapura Kamis (21/3/2013).

Survei yang berfungsi sebagai tolak ukur untuk mengukur kecenderungan konsumen dalam berbelanja online, dilakukan di 25 pasar antara bulan November dan Desember 2012.

Laporan untuk wilayah Asia/Pasifik tersebut termasuk wawancara dengan 7.011 responden dari 14 pasar yang diberikan pertanyaan mengenai kebiasaan berbelanja online mereka. Survei dan laporan yang menyertainya tidak mewakili kinerja keuangan MasterCard

China memimpin keseluruhan wilayah sebagai pasar dengan kecenderungan untuk melakukan belanja online terbanyak (102 Poin Indeks), diatas Selandia Baru (87), Australia (85), Singapura (84), dan Korea Selatan (82). Nilai China meningkat sebesar 4 Poin Indeks dari indeks tahun lalu.

Pergeseran ini didorong oleh perilaku konsumen di China yang tengah meningkat dalam hal kepercayaan berbelanja melalui online: hanya 21,4 persen konsumen merasa tidak aman saat berbelanja online, turun dari 32,8 persen pada tahun 2011 dan 35,3 persen pada tahun 2010. Terdapat juga pandangan yang muncul bahwa berbelanja online amat "mudah" sebanyak 89,5 persen responden di Cina menyatakan hal tersebut, angka ini meningkat dari 80,8 persen pada tahun 2011.

Dua pertiga (68 persen) dari responden di Selandia Baru menggunakan internet untuk berbelanja online diantara kegiatan lain, dan 82,3 persen berbelanja online dalam tiga bulan terakhir. Singapura dan Hong Kong, sebagai hub dalam berbelanja premier di Asia, mencatat kenaikan terbesar dalam perilaku berbelanja online di mana kedua pasar mencatatkan kenaikan 9 Poin Indeks pada tahun 2012.

Berbelanja "Mobile"
Survei MasterCard mengungkapkan peningkatan penting dalam berbelanja menggunakan smartphone. Indonesia berada di peringkat teratas di wilayah tersebut dengan lebih dari separuh responden (54,5 persen) menggunakan smartphone mereka untuk berbelanja dalam tiga bulan terakhir. China mengikuti dengan 54,1 persen dan Thailand dengan 51 persen.

Sekitar 40 persen dari pembeli online di Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura - yang juga memiliki tingkat penetrasi pengguna ponsel dengan internet yang tinggi - melakukan pembelian dengan ponsel mereka dalam tiga bulan terakhir. Yang paling kurang menggemari berbelanja online melalui ponsel mereka adalah responden dari Selandia Baru (18,2 persen), Australia (18,7 persen), dan Filipina (21,4 persen).

Satu dari lima pembeli di Asia/Pasifik melakukan pembelian item-item fesyen menggunakan ponsel mereka dalam tiga bulan terakhir. Konsumen di Australia (32,4 persen), Korea (28,8 persen), dan Singapura (28,5 persen) telah membeli barang-barang 'yang berhubungan dengan fesyen' secara online melalui smartphone mereka.

"Survei MasterCard mencerminkan perubahan perilaku pembeli di wilayah tersebut, dengan lebih banyak konsumen memilih untuk membeli barang secara online dan semakin banyak yang menggunakan smartphone mereka untuk melakukannya. Dengan pengecualian di beberapa pasar, pembeli online menjadi lebih percaya diri dalam menggunakan ponsel untuk berbelanja dan saya berharap tren ini akan terus berlanjut seiring dengan hadirnya lebih banyak teknologi canggih di pasar dan lebih banyak produk yang akan ditawarkan secara online, " ujar Porush Singh, senior vice president, Core Products, Global Products & Solutions, Asia/Pacific, Middle East and Africa, MasterCard.

Tren berbelanja

Di 14 pasar Asia/Pasifik, aplikasi mobile banking memiliki tingkat awareness tertinggi yaitu sebesar 45 persen, diikuti oleh aplikasi belanja melalui jejaring sosial sebesar 34 persen, aplikasi belanja untuk permainan (game) sebesar 33 persen dan SMS/MMS berbasis pembayaran sebesar 31 persen.
Ponsel NFC memiliki tingkat awareness terendah dengan hanya 25 persen dari responden menyadari atau mengerti dengan teknologi tersebut, pembayaran mobile dari pengguna-ke-pengguna (26 persen) juga mencatat awareness yang rendah di antara para responden.

Untuk Pembayaran NFC Mobile, sebanyak 70,3 persenresponden yang tahu atau sedikit mengerti dengan teknologi tersebut kemungkinan akan mencoba dan mengadopsi dalam 12 bulan pertama sejak diperkenalkan. Prosentase yang hampir sama juga telah menyatakan minat terhadap dompet digital (71,5 persen) serta pembayaran berbasis SMS/MMS (72,5 persen). Bahkan aplikasi belanja berbasis jejaring sosial juga telah disambut dan dicoba oleh sekitar 70,7 persen responden di seluruh Asia/Pasifik.

Kekhawatiran akan keamanan

Untuk pembelian melalui situs-situs asing, lebih dari 1 dari 3 responden di seluruh Asia/Pasifik merasa membeli melalui situs lokal lebih aman karena mereka takut akan penipuan dan dirasakan mengandung kemungkinan resiko karena informasi yang disalahgunakan.

Di antara mereka yang tidak melakukan pembelian online dalam 3 bulan terakhir sebelum survei, lebih dari sepertiga merasa tidak pasti tentang keamanan/keselamatan dalam melakukan transaksi online sebagai penghalang utama mereka.

Ketika ditanya mengenai peningkatan dalam hal berbelanja online, peningkatan terkait keamanan yaitu jaminan yang lebih baik bahwa transaksi tersebut aman serta peningkatan pada keamanan untuk meningkatkan kepercayaan menduduki peringkat tertinggi di antara para responden.