PENDAHULUAN
Kearifan merupakan sebuah gagasan atau sebuah nilai, dan
sebuah pandangan setempat. Serta memiliki nilai baik yang tertanam dan diikuti
oleh anggota masyarakatnya.
Budaya Daerah Bali, tentu nya sangat lah banyak yang kita
ketahui. Begitu pula dengan kearifan budaya yang sampai sekarang masih terus
dilakukan oleh masyarakat bali. Seperti budaya seni, agama, upacara-upacara
adat (upacara ngaben, upacara potong gigi, dll), dan budaya lainnya.
Oleh karena itu, kita harus mengetahui kearifan budaya
daerah lebih jelas lagi, agar kita bisa terus melestarikan budaya-budaya daerah
di Indonesia agar tidak hilang oleh perkembangan zaman.
Kearifan merupakan sebuah gagasan atau sebuah nilai, dan
sebuah pandangan setempat. Serta memiliki nilai baik yang tertanam dan diikuti
oleh anggota masyarakatnya.
Bali tentunya memiliki berbagai kearifan budaya yang terus
selalu dilestarikan oleh masyarakat bali setempat. Kearifan budaya bali dapat
berupa sebuah budaya seni yang dimiliki, Upacara-upacara adat seperti upacara
ngaben, upacara adat potong gigi, dan upacara adat lainnya. Disini saya akan
menjelaskan lebih mendalam mengenai kearifan budaya bali mengenai Tradisi
Upacara Adat Potong Gigi.
TEORI
Bali adalah sebuah pulau di Indonesia,
sekaligus menjadi salah satu provinsi Indonesia. Bali terletak di antara Pulau
Jawa dan Pulau Lombok. Ibukota provinsi bali adalah Denpasar. Mayoritas
penduduk Bali adalah pemeluk agama Hindu. Di dunia, Bali terkenal sebagai
tujuan pariwisata dengan keunikan berbagai hasil seni-budayanya. Bali juga
dikenal sebagai Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura.
Masih
ada lagi keunikan Bali yang dapat dilihat dari bagaimana orang Bali melakukan
sebuah kekerabatan secara lahir dan batin. Orang Bali begitu taat untuk tetap
ingat darimana dirinya berasal. Hal inilah kemudian melahirkan berbagai
golongan di masyarakatnya yang kini dikenal dengan wangsa atau soroh. Begitu
banyak soroh yang berkembang di Bali dan mereka memiliki tempat pemujaan
keluarga secara tersendiri guna melestarikan silsilah.
Tradisi Upacara adat potong gigi mengandung arti pembersihan sifat
buruk yang ada pada diri manusia.
atau biasa nya orang bali menyebutnya dengan sebutan metatah atau mesanggih,
yang memiliki maksud 6 buah gigi taring yang ada di deretan gigi bagian atas
dikikir atau diratakan, metatah merupakan salah satu upacara keaagamaan yang
wajib dilakukan oleh masyarakat Hindu di Bali baik laki-laki maupun perempuan
secara turun temurun, adat istiadat dan kebudayaan ini masih terus dilakukan
karena dipercayai oleh masyarakat bali saat meninggal dunia akan bertemu dengan
leluhur nya di surga.
Upacara
ini dianggap sakral dan diwajibkan bagi anak anak yang mulai beranjak dewasa,
terutama bagi anak perempuan yang telah datang bulan atau mensturasi, sedangkan
bagi anak laki laki telah memasuki masa akil baliq atau suaranya telah berubah,
upacara ini dapat diperjelas dimana anak sudah memasuki kehidupan yang lebih
dewasa lagi.
Adapun
6 sifat buruk dalam diri manusia atau disebut juga sad ripu yang harus
dibersihkan tersebut adalah:
- Hawa nafsu
- Rakus atau serakah
- Kemarahan
- Mabuk membutakan pikiran
- Perasaan bingung
- Iri hati atau dengki
Sifat-sifat
buruk yang ada tersebut, bila tidak dikendalikan dapat mengakibatkan hal
hal yang tidak diinginkan, kemudian merugikan dan membahayakan bagi
anak-anak yang akan beranjak dewasa kelak dikemudian hari. Oleh karena itu
kewajiban bagi setiap orang tua untuk dapat memberi nasehat, bimbingan serta
permohonan doa. Agar anak mereka terhindar dari 6 pengaruh sifat buruk yang
sudah ada sejak manusia di lahirkan di dunia.
Rangkaian kegiatan saat upacara
potong gigi :
- Orang yang terhormat dalam upacara ini meminta restu di tempat suci, lalu anak-anak atau remaja yang akan melaksanakan potong gigi dipercikan air suci/tirta, setelah itu mereka memohon keselamatan untuk melaksanakan upacara.
- Orang yang terhormat melakukan potong rambut dan menuliskan lambang lambang suci dengan tujuan mensucikan diri serta menandai adanya peningkatan status sebagai manusia, untuk meninggalkan masa kanak kanak ke masa remaja.
- Anak anak yang akan di potong giginya naik ke bale tempat pelaksaaan Metatah dengan terlebih dahulu menginjak sesajen yang telah disediakan sebagai simbol mohon kekuatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
- Setelah pemotongan gigi berlangsung, bekas air kumur kumur dibuang di dalam buah kelapa gading, ini bertujuan agar tidak mengurangi nilai kebersihan dan kesakralan dalam menjalankan upacara ini.
- Lalu dilanjutkan dengan melakukan penyucian diri oleh pendeta agar dapat menghilangkan bala/kesialan untuk menyongsong kehidupan masa remaja.
- Melaksanakan Mapedamel yang bertujuan sebagai simbol restu dari Dewa Semara dan Dewi Ratih agar dalam kehidupan masa remaja dan seterusnya menjadi orang yang bijaksana, dalam mengarungii kehidupan di masa datang. Di saat melakukan upacara ini anak anak mengenakan kain putih dan kuning, memakai benang pawitra berwarna tridatu (merah, putih dan hitam) sebagai simbol pengikat diri terhadap norma norma agama, kemudian anak anak yang dipotong giginya mencicipi 6 rasa (pahit, asam, pedas, sepat, asin dan manis) yang mempunyai arti dan makna makna tertentu.
- Setelah proses mapedamel dilakukan, dilanjutkan dengan upacara Natab Banten, yang bertujuan memohon anugerah kepada Hyang Widhi agar apa yang menjadi tujuan dapat tercapai.
- Setelah proses upacara tersebut dilakukan dilanjutkan dengan Metapak, tujuan adalah memberitahukan kepada anak nya bahwa kewajiban sebagai orang tua dari melahirkan, mengasuh dan membimbing sudah selesai, diharapkan sang anak kelak setelah upacara ini menjadi orang yang berguna, sebaliknya si anak kepada orang tua nya menghaturkan sembah sujud ungkapan terima kasih sudah dengan susah payah berkorban jiwa dan raga untuk melahirkan mereka, mengasuh, membesarkan, mendidik dan membimbing mereka menuju jalan yang baik dan benar sampai dewasa. (Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi)
Dari
serangkaian upacara diatas dapat kita pahami bahwa dalam diri setiap manusia
sejak mereka dilahirkan sudah terdapat sifat yang tidak baik, dengan melakukan
upacara Metatah ini anak yang sudah dewasa diingatkan dan diajarkan
untuk tidak terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama dan bisa menjadi
manusia yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa.
KESIMPULAN
Jadi,
dapat disimpulkan kearifan tradisi upacara adat potong gigi dibali sampai
sekarang masih terus dilakukan. Karena upacara potong gigi ini atau orang bali
biasa menyebut Metatah merupakan serangkaian upacara adat istiadat bali yang
dilakukan oleh anak-anak remaja yang memasuki tahap pendewasaan. Upacara ini
berlaku bagi anak perempuan yang sudah
menstruasi atau datang bulan dan anak laki-laki yang sudah akil baliq
atau sudah mengalami perubahan suara.
Upacara potong gigi ini memiliki maksud bahwa anak yang sudah diratakan gigi
nya dinyatakan suci dan memiliki tanggung jawab agar tidak melakukan pengaruh
sifat-sifat yang buruk.
http://balikubudayaku.blogspot.com
http://wisatadewata.com/article/adat-kebudayaan/upacara-potong-gigi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar